Kamis, 14 April 2011

analisis faktor-faktor yang mempengaruhi volume ekspor karet di indonesia




                                                                                                                                           


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
MEDAN
2010








Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya laporan penelitian ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat untuk memenuhi dan menyelesaikan tugas mata kuliah Ekonometrika.
Laporan penelitian ini dapat diselesaikan atas bimbingan dan arahan bapak Iskandar Syarif serta informasi yang penulis peroleh dari berbagai sumber.
Didalam laporan penelitian ini penulis memaparkan tentang hasil penelitian kami yaitu “ Analisis Factor- Factor yang Mempengaruhi Volume Ekspor Karet di Indonesia “.
Penulis berharap laporan ini dapat memenuhi tugas yang diberikan dan bermanfaat bagi para pembaca di dalam perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan bari para pembaca.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu saya dalam proses pengerjaan makalah ini.



                                                                                    Medan, 23 Oktober 2010

                                                                                             Penulis



Daftar Isi

Kata pengantar …………………………………………………………………    i
Daftar isi…………………………………………………………………………    ii
Abstrak………………………………………………………………………….     1
Bab I Pendahuluan
I.1 Latar belakang………………………………………………………………    2
I.2 Rumusan masalah……………………………………………………………   4
I.3 Tujuan penelitian…………………………………………………………….   4
I.4 Manfaat……………………………………………………………………….   4
Bab II
II.1Tinjauan Pustaka……………………………………………………………                II.1.1Perdagangan Internasional………………………………………. 6
II.1.2 Ekspor……………………………………………………………..    8
II.1.3 Kurs………………………………………………………………..   11
II.1.4 Harga………………………………………………………………   18
II.1.5 Total Produksi…………………………………………………….    21
II.2  Studi Empiris………………………………………………………………     25
II.3 Kerangka teori……………………………………………………………...    26
III.4 Hipotesis……………………………………………………………………    26
Bab III Metodologi Penelitian………………………………………………….
III.1 Jenis dan Sumber Data……………………………………………………    28
III.2 Metode Pengumpulan Data……………………………………………….    28
Bab IV Hasil dan Pembahasan………………………………………………       
4.1 Kurs ….…………………………………………….................. ……..  …….   34
4.2 Harga karet ……………………………………………………… ….. …….   35
4.3 Total produksi ……………………………………………………………….
4.4 Ekspor tahun sebelumnya ………………………………………………….    36
4.5 Hasil analisis regresi ………………………………………………………..     37
4.6 Asumsi klasik ……………………………………………………………….     42
Bab V Kesimpulan dan Saran……………………………………………….
V.1 Kesimpulan……………………………………………………………….        45
V.2 Saran………………………………………………………………………       46
Daftar Pustaka………………………………………………………………...       47
           










Daftar lampiran


Lampiran 1 ……………………………………………………………………..     iv
Lampiran 2 ……………………………………………………………………..     v
Lampiran 3 ……………………………………………………………………..     vi
Lampiran 4 ……………………………………………………………………..     viii Lampiran 5 ……………………………………………………………………... ix
Lampiran 6 ………………………………………………………………………   x
Lampiran 7 ………………………………………………………………………   xi












Abstrak
Penelitian ini merupakan salah satu penelitian yang ingin mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor karet di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder, kemdian dianalisis dengan metode ordinary least square (OLS). Dengan menggunakan data time series untuk rentang waktu 1988-2008. Hasil penelitian menemukan bahwa jumlah ekspor karet di Indonesia dipengaruhi oleh nilai tukar, harga ekspor karet, total produksi karet dan volume ekspor karet tahun sebelumnya di Indonesia. Dari sejumlah variabel tersebut, secara umum hasil estimasi memeperlihatkan bahwa nilai tukar, harga ekspor karet, total produksi karet dan volume ekspor karet tahun sebelumnya mempunyai pengaruh yang positif terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia.

Kata Kunci : Jumlah ekspor karet, nilai tukar, harga ekspor karet, total produksi karet dan volume ekspor tahun sebelumnya.








BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
            Semakin berkembangnya ekonomi internasional dalam era globalisasi saat ini membuat kebutuhan ekonomi antar Negara semakin terkait, hal ini tercermin dari meningkatnya arus perdagangan barang, uang, serta modal antar Negara didunia. Hal tersebut menuntut agar setiap Negara menjalankan perekonomian yang terbuka, sehingga keterbukaan perekonomian terhadap dunia internasional menjadi pilihan utama bagi setiap Negara. Salah satu hal mendasar yang berkaitan dengan keterbukaan perekonomian suatu Negara adalah perdagangan internasionalnya. Oleh sebab itu, setiap negara secara tidak langsung dituntut untuk memperbaiki kinerja perekonomiannya terutama pada sector perdagangan luar negeri agar dapat bersaing dipasar global.
Perdagangan internasional terjadi disebabkan oleh keunggulan suatu Negara menghasilkan suatu barang dengan berbagai criteria. Begitupun terjadinya perdagangan internasional disebabkan persoalan saling membutuhkan terhadap suatu barang diantara penduduk suatu Negara dengan penduduk Negara lain sebagai proses ketergantungan yang berlangsung sepanjang masa. Melakukan ekspor dan impor merupakan kegiatan yang cukup penting disetiap negara. Walau bagaimanapun kepentingan sektor  luar negeri dalam suatu perekonomian berbeda-beda dari satu Negara ke Negara lain.
Beberapa faktor lain yang menyebabkan timbulnya perdagangan internasional selain motif gains of trade yaitu :

1. harga
Ditentukan oleh biaya produksi, dimana perbedaan biaya produksi akan menyebabkan perbedaan harga barang. Seseorang dapat membeli barang yang harganya lebih rendah dan mungkin dapat menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi

2. pendapatan
Meningkatnay pendapatan nasional menyebabkan meningkatnya pembelian barang dari luar negeri  dan meningkatnya ekspor akan meningkatkan pendpatan nasional.

3. selera
Misalnya seseorang lebih berselera produk luar negeri, maka ia cenderung membeli produk luar negeri, begitu pula sebaliknya.

Perkebunan sebagai salah satu subsector pertanian mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia, baik pada masa lalu, sekarang, maupun pada masa yang akan datang. Perkebunan di Indonesia menurut struktur dan jenisnya dapat dibedakan atas : perkebunan Negara, perkebunan swasta nasional, dan swasta asing, serta perkebunan rakyat. Produksi perkebunan baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta ( nasional dan asing ) maupun perkebunan Negara telah meningkat dari tahun ke tahun, selain untuk dikonsumsi dan untuk diekspor.
           


Adapun komoditi ekspor andalan Indonesia dari subsektor perkebunan adalah kelapa sawit, karet, kopi, the, coklat, dsb. Dalam penelitian ini akan diambil sample karet karena komoditi ini memiliki prospek yang cukup baik saat ini, disamping kelapa sawit.

I.2 Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Seberapa besar pengaruh nilai tukar ( kurs ) terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia?
  2. Seberapa besar pengaruh harga karet terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia ?
  3. Seberapa besar pengaruh total produksi karet terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia ?

I.3 Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut ;
  1. Unutk mengetahui seberapa besar pengaruh nilai tukar ( kurs ) terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia
  2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh harga karet terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia
  3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh total produksi karet terhadap jumlah ekspor karet di Indonesia


I.4 Manfaat Penelitian
            Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
  1. Sebagai bahan informasi bagi Pemerintah maupun Instansi / Lembaga yang ada hubungannya dengan ekspor karet yang ada di Indonesia
  2. Menambah dan melengkapi hasil-hasil penelitian yang ada, khususnya mengenai ekspor karet di Indonesia
  3. Agar dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi penelitian selanjutnya















Bab II

II.1 Tinjauan Pustaka
II.1.1 Arti Perdagangan Internasional
Perdagangn Intenasional didefenisikan sebagai kegiatan – kegiatan perniagaan dari suatu negara asal yang melintasi perbatasan menuju suatu negara tujuan yang dilakukan oleh perusahaan multinasional coporation untuk melakukan perpindahan barang dan jasa, perpindahan modal, perpindahan tenaga kerja, perpindahan teknologi (pabrik0 dan perpindahan merk dagang. Robbock membahas “Perdagangan Internsaional” dari sudut pandang menejemen dan memerinci kegiatan –kegiatan perdagangan sebagaia beikut (Harry:1995):
ü  Perdagangn Internasional terjadi melalui peroindahan barang – barang, perpindahan jasa-jasa dari satu negara ke negara lain yang disebut transfer of goog and services.
ü  Perdagangan internasional juga melewati perpindahan modal yaitu masuknya investasi asing dari luar negeri yang disebut transfer of capital.
ü  Tenaga kerja juga merupakan objek dalam perdagangan Interansional. Dalam perdagangan Internasional transfer of labor mendorong masuknya tenaga –tenaga kerja ahli dan tenaga teknisi dari luar negeri. Pada kenyataanya unskilled labor dapat juga memperoleh pekerjaan di luar negeri.
ü  Perdagangn Internasional dapat dilakukan melalui transfer of technology yaitu dengan cara mendirikan pabrik-pabrik di negara – negara lain.
ü  Keberhasilan dari suatu Perdaganagn Internasional tergantung dari transfer of data dan informasi terutam adalam penyampain informasi tentang kepastian tersedianya bahn baku dan pangsa pasar.
Teori Keunggulan Absolut (Adam Smith)
Bahwa setiap negara akan meperoleh manfaat perdagangn internasional karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak, serta mengimpor barang  jika negara tersebut memilki ketidakunggulan mutlak (Handy:2001). Teori absolute advantage ini didasarkan kepada beberap asumsi pokok antara lain :
ü  Factor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja saja.
ü  Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama.
ü  Pertuakran dilakukan secara barter atau tanpa uang
ü  Biaya transport ditiadakan

Teori Keungulan Komparatif (David Ricardo)
Teori keunggulan absolute dari Adam Smith memiliki kelemahan yang akhirnya disempurnakan oleh David Ricardo dengan teori comparative advantage( labor efficincy) maupun  production comparative (labor productivity).
Menurut teori cost comparative (labor efficiency), suatu negara akan  memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor baranng dimana negara tersebut berproduksi relative kurang/tidak produktif (Hamdy:2001)

Teori H-O
            Negera – negara yang memiliki factor produksi relative banyak/murah dalam meproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan mengeskpor barangnya. Sebaliknya, masing – masing negara akan mengimpor barang tertentu jika negara tersebut memiliki factor produksi yang relative langka/mahal dalam memproduksinya.
            Dalam analisisnya, teroi H – O menggunkan dua kurva yaitu, kurva isocost,kurva yang menggambarkan total biaya produksi yang sama dan kurva isoquant, yaitu kurva ynang menggambrkan total kuantitas produk yang sama (Hamdy:2001).

Teori Internasional Product Life Cycle (IPLC)
            Ada ketidaksesuian asumsi H-O sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan. Teori siklus kehidupan produk merupakan jawaban atas kegagalan teori H-O yang dikemukakan oleh Raymond vemon pada tahun 1966 yaitu bahwa jalan hidup suatu produk menimbulkan keunggulan komparatiif dan mernciptakan  perdagangan. Menurut model ini, pada tahap awal penciptaan sebuah produk baru dan pengenalannya ke pasar, biasanya proses produksinya mensyaratkan tenaga kerja terampil namun begitu produk itu matang da telah memperoleh pasar luas, maka produk itupun menjadi standar (Salvatore:1997)
            Menurut Sak Onkvisit dan Jhon J Shaw, berdasarkan teori IPLC terdapat lima tahapan, yaitu tahap I samapi tahap V yang memberi gambaran tentang perkembangan suatu produk. Tahapan – tahapan ini adalah (Hamdy:2001) :
1.      Inovasi likal
2.      Inovasi di luar negeri
3.      Maturity
4.      Imitasi di luar
5.      Pembalikan


II.1.2 Ekspor
Ekspor merupakan penjualan barang dan ajsa yang dihasilkan suatu negara ke negara lainnya (Samuelson dalam kutipan Nordhaus,1984)
Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah negara memeperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, yang pada gilirannya menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan tingkat output yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan (M.L. Jhingan,1975:448)
      Ekspor merupakan factor penting dalam merangsang pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekspor akan memeperbesar kapasitas konsumsi suatu negara meningkatkan output dunia,serta menyajikan akses sumber – sumber daya yang langkadan pasar – pasar Internasional yang potensial untik berbagai produk ekspor yang mana tanpa produk tersebut, maka negara – negara miskin tidak akan mampu mengambangkan kegiatan dan kehidupan perekonomiannasionalnya. Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam mengambil keuntungan dari skala ekonomi yang mereka miliki (M.P. Todaro & Stephen C )


Teori Ekspor Base
Menurut teori export Base, ekspor sangat mendukung perkembangan ekonomi suatu daerah. Teori basis ekspor merupakan bentuk model pendapatan regional yang mendukung pertumbuha paling sederhana. Teori ini sebenarnya menyederhanakan suatu system regional menjadi dua bagian yaitu daerah yang bersangkutan dasn daerah –daerah selebihnya. Pentingnya teori ini terletak pada kenyataan bahwa ia memberikan kerangka teolitik bagi banyak studi multiplier regional.
Asumsi pokok dari teori ini adalah bahwa ekspor adalah satu satunya unsure otonom dalam pengeluaran semua komponen pengeluaran lainnya dianggap sebagai fungsi dari pendapatan, dan fungsi penngeluaran. Semua komponen pengeluaran

Faktor – faktor yang mempengaruhi ekspor
Factor yang dapat mempengaruhi ekspor adalah:
  1. Harga Internasional, semakin besar selisih antara harga di pasar Internasional dengan harga domestic akan menyebabkan jumlah komoditi yang akan di eskpor menajdi bertambah.
  2. Nilai Tukar Uang (Exchange Rate), semakin tinggi nilai tukar mata uang suatu negara maka harga ekspor negara itu di pasar internasional menjadi mahal. Sebaliknya, semakin rendah nilai tukqar mata uang suatu negara, harga ekspor negara itu di apsar Interansional menjadi murah. Kuoata ekspor yaitu kebijakan perdagangan interansional berupa pembatasan kuoata (jumlah) barang ekspor.
  3. kebijakan tariff & non tariff
  4. kebijakan tariff adalah untuk menjaga harga produk dalam negeri dalam tingkatan tertentu yang dianggap mampu atau dapat mendorong pengembangan komoditi tersebut. Sedangkan kebijakan non tariff adalah untuk mendorong tujuan diversifikasi ekspor. (Soekarwati,1999:1228)



Manfaat dan Peranan Ekspor
 Secara umum ada beberapa manfaat atau peranan uyang dapat diperoleh dari kebijakan ekspor antara lain:
  1. Keuntungan komparatif (comparative advantage), didasarkan pada keuntungan komparatif, yaitu suatu negara menjadi penggerak dari kebijakan perekonomian (leading sector)
  2. ekspor merupakan sumber devisa bagi negara, apabila ekspor naik mengakibatkan penerimaan dalam negeri meningkat.
  3. eks;por menciptakan permintaa efektif baru. Akibat permintaan barang – barang di pasar dalam negeri meningkat terjadinya persaingan mendoronng industri dalam negeri mencari inovasi dan efisiensi yang meningkatkan produkitvitas.
  4. perluasan kebijakan ekspor mempermudah epmbnagunan karena industri tertentu tumbuh tanpa membutuhkan investasi dalam akpital social sebanyak yang dibutuhkan. Seandainya barang- barang itu akan di jual didalam negeri, misalnya karena sempitnya pasar dalam negeri akibat tingkat pendapatan riil yang rendah atau hubungan transportasi yang belum memadai (Djamin,1994;5)

II.1.3 Kurs
Defenisi kurs (Exchange rate) valuta asing
            Nilai tukar adalah harga relatif mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Secara lebih luas valuta asing/kurs dapat diartikan sebagai seluruh kewajiban terhadap mata uang asing yang dapat dibayar diluar negeri, baik berupa simpanan pada bank diluar negeri amupun kewajiban dalam mata uang asing.(Berlianta,2004;1). Tedapata dua cara untuk menyatakan kurs yaitu :
  1. model Eropa yang sering disebut Indirect quote
model ini merupakan cara yang sering disebut Indirect Quote dalam perdagangan valuta asing atau antar bank diseluruh dunia. Penetapan kursnya dilakukan berdasarkan pada beberapa unit mata uang asing yang dibutuhkan untuk membeli 1 unit mata uang dalam negeri.
  1. model Amerika yang sering disebut Direct quote
model ini disebut sebagai harga 1 unit mata uang asing dalam mata uang domestic, contohnya

Kurs Beli dan Kurs Jual
Kurs yang di-Quote menunjukkan kesediaan untuk membeli dan menjual mata uang asing pada harga /rate yang ditetapkan. Secara umum, terdapat dua macam kurs,yaitu kurs beli (bid) dan kurs jual (offer). Kurs beli adalah harga dimana dealer yang terdiri dari bank dan money changer bersedia memblei mataa uang asing. Kurs jual adalah harga diamna dealer bersedia menjual mata uang asing. Selisih kurs jual dan kurs beli merupakan keuntungan dealer tersebut.

Kurs Nominal dan Kurs Rill
Kurs nominal (nominal exchange rate ) adalah harga relative dari mata uang dua  Negara. Sebagai contoh jika kurs antara dolar AS dan Yen Jepang adalah 120 yen/dollar, maka Anda bisa menukar 1 dolar untuk 120 yen di pasar dunia untuk mata uang asing. Orang Jepang  yang ingin mendapatkan dolar akan membayar 120 yen untuk setiap dolar yang dibelinya. Orang Amerika akan mendapat 120 Yen untuk setiap dolar yang ia bayar. Ketika orang –orang mengacu pad “kurs” diantara ke dua Negara, mereka biasa mengartikan kurs nominal.

Kurs Riil (Riil Excange Rate ) adalah harga relative dari barang – barang ke dua Negara. Yaitu, kurs Riil menyatakan tingkat dimana kita bisa memperdagangkan barang – barang dari suatu Negara untuk barang- barang dari Negara lain. Kurs riil kadang kadang di sebut Term of Trade (TOT).

Untuk melihat hubungan antara kurs riil dan kurs nominal, perhatikanlah sebuah barang yang diroduksi di banyak Negara, yakni mobil. Anggaplah harga mobil Amerika 10000 US $ dan harga mobil Jepang 2.400.000 yen untuk membandingkan harga dari kedua mobil tersebut, kita harus mengubahnya menjadi mata uang umum. Jika 1 dolar bernilai 120 Yen, maka harga mobil Amerika (1 200 000 Yen ) dan harga mobil Jepang ( 2 400 000 Yen ), kta menyimpulkan bahwa harga mobil Amerika separuh dari harga mobil Jepang. Dengan kata lain, pada harga berlaku, kita bisa menukar 2 mobil Amerika untuk 1 mobil Jepang.

Dalam perhitungan hal ini dapat diringkas  menjadi :
Kurs Riil = kurs nominal x harga barang domestic
                          Harga barang luar negeri

            Tingkat dimana kita memperdagangkan barang domestic dan barang luar negeri bergantung pda harga dalam mata uang local dan pada tingkat dimana mata uang di pertukaran.

            Perhitungan kurs Riil untuk barang tingkat ini menjelaskan bagaimana kita seharusnya mendefenisikan kurs riil untuk kelompok barang yang lebih luas. Kita menyatakan e kurs nominal (jumlah Yen/dolar), padahal tingkat harga di A. S. (diukur dalam dolar), dan P* adalah tingkat harga di Jepang (di ukur dalam Yen ). Maka kurs Riil € adalah

Kurs Riil = Kurs Nominal x Rasio tingkat harga

Є         = ℮ x (P/P*)

            Kurs Riil diantara ke dua Negara di hitung dari kurs nominal dan tingkat harga di ke dua Negara. Jika kurs Riil tinggi barang – barang luar negeri relative murah, dan barang – barang domestic relative mahal. Jika kurs Riil rendah, barang – barang luar negeri realatif mahal dan barang domestic relative murah.

Sistem Nilai Tukar Valuta Asing
            System pokok nilai tukar valuta asing dapat dibedakan menjadi dua yatiu : system nilai tukar tetap (Fixed Exchange Rate ) dan system nilai tukar mengambang (Flexibel exchange rate ). Pembedaan ini berdasarkan pada besar cadangan devisa dan intervensi bank sentral yang diperlukan untuk mempertahankan kurs pada sisitem tersebut. System nilai tukar tetap tukar tetap membutuhkan cadangan devisa. Bank sentral berada pada posisi yang dikehendaki. Sebaliknya, system nilai tukar mengambang tidak membutuhkan cadangan devisa. Bank sentral juga tidak tidak perlu mengintervensi pasar karena kurs valuta asing ditetapkan oleh interaksi antara permintaan mata uangdan penawaran mata uang asing yang bersangkutan.
Berdasarkan biasanya besarnya intervensi bank sentral dan cadangan devisa yang diperlukan untuk mempertahankan berbagai system tersebut, terdapat 6 sistem nilai tukar yang dipakai oleh banyak Negara di dunia, yaitu (Billis etal,1996)
a.                          Sistem fixed (pagged), dimana otoritas moneter selalu mengintervensi pasar uang mempertahankan nilai tukar mata uang sendiri terhadap suatu mata uang asing tertentu. Intervensi tersebut memerlukan cadangan devisa yang negatif  besar. Tekanan terhadap nilai tukar valuta asing, yang besarnya bersumber dari deficit neraca perdagangan, cenderung menghasilkan kebijakan devaluasi.
b.                          System Adjustable pergi dimana otoritas moneter terikat untuk mempertahankan nilai tukar valuta asing. Namun, otoritas moneter berhak mengubah kurs apabila terjadi perubahan kebijakan.
c.                          System crawing peg, dimana otoritas moneter mengaitkan mata uang dalam negeri terhadap satu atau beberapa mata uangn asing. Nilai tukar valuta asing dalam system ini adalah secara priodik dan berangsur dalam persentase kecil.
d.                         System managed float, diamna otoritas moneter tidak terikat utnuuk mempertahankan nilai tukar valuta asing tertentu. Namun otoritas moneter mengintervensi pasar berdasarkan pertimbangan tertentu, misalnya cadangan devisa yang menipis.
e.                          Sistem wilder band, dimana otoritas moneter membiarkan nilail tukar valuta asing mengambang dan berfluktuasi diantara dua titik tertinggi dan terendah. Jika keadaan perekonomian menyebabkan kurs bergerak mencapai dua titik dua titik tersebut, otoritas moneter akan mengintervensi pasar dengan cara memebeli atau menjual rupiah atau US dollar.
f.                           Sistem free floating, berada pada kutub yang bertentangan dengan system fixed. Dalam sisitem ini, otoritas moneter secara teoritas tidak perlu mengintervensi pasar sehingga system ini tidak memerlukan cadangan devisa.


Perubahan Valuta Asing
Ada beberapa macam perubahan kurs valuta asing yaitu Devaluasi, Revaluasi, depresiasi, dan apresiasi. Perubahan ini dapat disebabkan oleh mekanisme penawaran dan permintaan di pasar, maupun yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah.

  1. Devaluasi
Devaluasi merupakan penurunan nilai tukar satu mata uang domestic, misalnya rupiah, relstive terhadap mata uang asing tertentu,misalnya US Dollar, yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Devaluasi hanay dapat terjadi jika nilai Rupiah dikaitkan terhadap US Dollar dan pemerintah dengan sengaja mengubah nilai Rupiah Realtive terhadap US Dollar. Jika pemerintah tidak mengaitkan Rupiah terhadap US Dollar dan perubahan nilai tukar terjadi enga sendirinya, isitilah ini tidak belaku lagi. Jadi, istilah devaluasi hanya berlaku dengan system nilai tukar tetap dimana suatu mata uang domestic dikaitkan dengan mata uang asing tertentu.

  1. Revaluasi
Merupakan penurunan nilai tukar terhadap mata uang domestic terhadap mata uang asing tertentu. Sama dengan devaluasi, isitilah revaluasi hanya berlsku pada system nilai tukar tetap


.
  1. Depresiasi
Merupakan penurunan nilali tukar satu mata uang domestic, misalnya Rupiah relative terhadap mata uang asing misalnya US Dollar yang disebabkan gerakan permintaan dan penawaran Rupiah dan US Dollar di pasar valuta asing. Isitilah ini berlaku dalam sisitem nilai mengambang dimana permintaan tidak mengaitkan mata uang domestic dan ,mata uang asing tertentu. Permintaan juga tidak mengubah nilai relative mata uang domestic terhadap mata uang asing tertentu.

  1. Apresiasi
Merupakan kenaikan nilai tukar satu mata uang domestic relative terhadap mata uang asing tertentu. Sama dengan depresiasi, isitilah apresiasi hanya belaku dalam system nilai tukar mengambang..

Berkaitan dengan perubahan kurs valuta asing, dikenal istilah Soft Currency dan Hard Currency. Suatu mata uang dikategorikan Soft Currency jika mata uang tersebut diperkirakan akan mengalami devaluasi atau depresiasi relative terhadap mata uang asing utama. Pengecualian terjadi dalam kasus Bank Central yang dipertshankan nilai kurs pada tingkat yang tidak riil.

Suatu mata uang dapat dikategorikan Hard Currency jika mata uang tersebut diperkirakan akan mengalami revaluasi atau apresiasi relative terhadap mata aung asing utama. Dalam prakteknya, terhadap beberapa mata uang asing yang dianggap sebagai Hard Currancy meskipun nilainya selalu berubah – ubah. Mata uang tersebut diantaranya US Dollar, Yen, Swiss Franc dan Poundsterling.


II.1 4 Harga
Definisi / Pengertian Harga (Price)
Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk karena harga adalah satu dari empat bauran pemasaran / marketing mix (4P = product, price, place, promotion / produk, harga, distribusi, promosi). Harga adalah suatu nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter.
Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.
Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh organisasi perusahaan.

Tujuan Penetapan Harga
1.Mendapatkan Keuntungan besarnya
Dengan menetapkan harga yang kompetitif maka perusahaan akan mendulang untung yang optimal.
2.Mempertahankanperusahaan
Dari marjin keuntungan yang didapat perusahaan akan digunakan untuk biaya operasional perusahaan. Contoh : untuk gaji/upah karyawan, untuk bayar tagihan listrik, tagihan air bawah tanah, pembelian bahan baku, biaya transportasi, dan lain sebagainya.
3. Menggapai ROI (Return on Investment)
Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang ditanam pada perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat akan mempercepat tercapainya modal kembali / roi.
4. Menguasai Pangsa Pasar
Dengan menetapkan harga rendah dibandingkan produk pesaing, dapat mengalihkan perhatian konsumen dari produk kompetitor yang ada di pasaran.
5. Mempertahankan status quo
Ketika perusahaan memiliki pasar tersendiri, maka perlu adanya pengaturan harga yang tepat agar dapat tetap mempertahankan pangsa pasar yang ada.
C. Cara / Teknik / Metode Penetapan Harga Produk
1. Pendekatan Permintaan dan Penawaran (supply demand approach)
Dari tingkat permintaan dan penawaran yang ada ditentukan harga keseimbangan (equilibrium price) dengan cara mencari harga yang mampu dibayar konsumen dan harga yang diterima produsen sehingga terbentuk jumlah yang diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan.
2. Pendekatan Biaya (cost oriented approach)
Menentukan harga dengan cara menghitung biaya yang dikeluarkan produsen dengan tingkat keuntungan yang diinginkan baik dengan markup pricing dan break even analysis.
3. Pendekatan Pasar (market approach)
Merumuskan harga untuk produk yang dipasarkan dengan cara menghitung variabel-variabel yang mempengaruhi pasar dan harga seperti situasi dan kondisi politik, persaingan, sosial budaya, dan lain-lain.



Teori Permintaan
Permintaan adalah keinginan yang disertai dengan kesediaan serta kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan. Hukum permintaan berbunyi “ jika harga naik, maka jumlah output yang diminta akan turun, demikian pula sebalinya, cateris paribus.”(Suherman:1996).

Kurva permintaan (demand curve) adalah suatu grafik yang memuat hubungan antara harag suatu barang dengan kuantitas yang diminta (Mankiw:2001). Dalam analisis permintaan, kurva permintaan mungkin berbentuk (a) garis lurus, (b) cembung terhadap titik nol, atau (c) cekung terhadap titik nol (Suherman:1996) 
                                                                                                         










 

Ada beberapa hal yang dapat menggeser kurva permintaan tiga diantaranya adalah (yang paling dominan):
  1. tingkat pendapatan
semakin besar pendapatan maka semakin besar permintaan. Jika terjadi kenaikan pendapatan masyaraka maka kurva permintaan akan bergeser ke kanan. Namun, apabila terjadi penurunan pendapatan masyarakat, maka kurva penurunan akan bergeser ke kiri.

  1. Cita rasa atau selera masyarakat (taste)
Cita rasa atau selera masyarakat terhadap segala sesuatu ini pada lazimnya akan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Selera mungkin mencerminkan kebutuhan psikologis dan fisiollogis sejati, selera mungkin mencakup kecanduan yang terjadi secara artificial dan selera mungkin juga mengandung sebuah unsur yang kuat dari tradisi atau agama (Samuelson:2004).


  1.  Harga barang lain yang berkaitan (prices of related cpmodities)
Kenaikan harga barang substitusi akan menggeser kurva permintaan ke kanan dan penurunan harga barang substitusi akan menggeser kurva eprmintaan ke kiri. Sedangkan kenaikan haraga barang komplementer kana menggeser kurva permintaan kekiri dan penurunan harga barang komplementer akan menggeser kurva permintaa kekanan.

II.1.5 Produksi
Produksi meruoakan suatu proses pendayangunaan sumber-sumber yang telah tersedia dan hasil yang dimilikinya akan lebih besar dari pengorbanan yang sudah terjadi. Ditinjau dari segi ekonomi maka pengertian produksi merupakan suatu proses pendayangunaan sumber-sumber yang telah tersedia sehingga  memperoleh hasil yang baik kualitas dan kuantitasnya, terkelola dengan baik sehingga merupakan suatu komoditi yang dapat diperdagangkan.
Richard Ruggles beserta isirinya Nancy D.Ruggles menyatakan :
In broader term any process that creats value or add value to already existing goods in production.
Secara lebih luas, setiap proses yang menciptakan nilai atau memperbesar nilai suatu barang adalh produksi.


Faktor – Faktor Produksi
  1. tanah
yang diamksud dengan tanah bukanlah tanah untuk di tanami atau ditinggali, tapi termasuk segala sumber daya alam (natural resources). Dengan demikian, isitilah tanah maksudnya adalah segala sesuatu yang bisa menjadi factor produksi dan berasal atau tersedia di ala mini tanpa usaha manusia.
  1. tenaga kerja
dalam ilmu ekonomi, tenanga kerja (labor) bukan semata-mata kekuatan manusia untuk mencangkul, menggergaji dan segala kegiatan lainnya, tapi lebih luas, yaitu human resources (SDM). Jadi, Sumber Daya Manusia adalah semua atribut atau kemampuan manusia yang dapat disumbangkan untuk memungkinkan dilakukan proses produksi barang dan ajsa.


  1. Modal
Meliputi semua jenis barang yang dibuat untuk menunjang kegiatan produksi barang-barang lain serta jasa. Modal juga mencakup arti uang yang tersedia di dalam perusahaan untuk membeli mesin serta factor-faktor lainnya.

  1. Skill
Meruupakan faktor produksi yang intansible (tidak dapat diraba) tapi peranannya justru sangat menetukan seorang entrepreneur mengorganisir ke tiga factor diatas agar dapat mencapai hasil yang baik.

Dalam proses produksi pertanian, perkebunan, factor –faktor yang mempengaruhi produksi dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
  1. factor biologi; seperti lahan pertanian dengan berbagai tingkat kesuburan,bibit, pupuk,gulma,dsb
  2. factor social ekonomi;seperti biaya produksi, harga, tenaga kerja, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, risiko dan ketidakpastian,kelembagaan,tersedianya kredit,dan sebagainnya.(Soekartawi,1994:4)
 
Fungsi produksi
Mmenetukan output maksimum yang dapat dihasilkan dari sejumlah input tertentu, dalam kondisi keahlian dan pengetahuan teknis tertentu atau dapat dikatakan juga bahwa fungsi prooduksi hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan(Y) (dependent variabel) dan variabel yang menjelaskan (X) (Independent variabel). Varaibbel yang dijelaskan biasanya berupa input.  Secara sistematis, hubungan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Y = f (x1,x2,...xn)
Dengan fungsi produksi seperti di atas, maka hubungan Y dan X dapat diketahui dan sekaligus hubungan x1,… xn dan X Lainnya juga dapat diketahui.
Fungsi produksi selalu dinyatakan dalam bentuk rumus, yaitu sebagai berikut :
Q =f (K,L,R,T)
Dimana K=Modal, L=jumlah tenaga kerja, R=kekayaan alam,T=teknologi yang digunakan dan Q=jumlah produksi yang dihasilkan.


Jenis Fungsi Produksi
  1. fungsi Produksi Linier
rumus matematik dari linier adalah sebagai berikut:
Y=f(x1,x2,…xn)
Dimana :
Y= variabel yang dijelasikan
X= variabel yang menjelaskan
Fungsi linier biasanya dibedakn menjadi dua yaitu fungsi produksi linier sederhana dan linier berganda. Perbedaannya terletak pada jumlah varaibel X yang dipakai dalam model.
Fungsi produksi kinier sederhana (simple regression) ialah bila hanya satu variabel X yang dipakai dalam satu model. Secara sisitematis dapat ditulis
Y=a+bX
Dimana :
A= intersep (perpotongan)
B=koefisien regresi
Garis linier berganda (multiplier regression) menggunakan lebih dari satu variabel X. secara sistematis ditulis sebagai berikut:
Y= f(x1,x2,…xn)

Y= a +b1x1+b2x2+....bnxn)


II.2 Studi Empiris
1. Penelitian oleh Tanti Novianti dan Ella Hapsari Hendratno
Analisis Penawaran Ekspor Karet Alam Indonesia ke Negara Cina
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perkembangan pasar karet alam Indonesia di Cina, menganalisis faktor – faktor penawaran ekspor karet alam Indonesia di Cina serta strategis pengembangan ekspor karet alam Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi berganda dan SWOT (Strengths Weaknesses Threats Opportunities). Hasil penelitian menemukan bahwa penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Cina meningkat 86.96% pada tahun 2000-2007. Faktor – faktor yang mempengaruhi ekspor karet alam Indonesia ke Cina adalah harga ekspor karet sintesis secara positif, GDP Cina secara negative dan nilai tukr yuan terhdap dollar AS secara positif.
2. Penelitian oleh Ajeng Wulandari
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi eksport karet dari Indonesia ke Amerika kurun waktu 1980-2003 ini bertujuan untuk  . bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari harga karet Dunia terhadap permintaan ekspor karet Indonesia, untuk menganalisis pengaruh dari harga karet sintetis terhadap permintaan ekspor karet Indonesia, untuk menganalisis pengaruh dari GDP riil negara Amerika terhadap permintaan ekspor karet Indonesia, dan bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai tukar Dollar Amerika terhadap Rupiah terhadap permintaan ekspor karet Indonesia. Model yang digunakan dalam penelitian ini merupakan uji ekonometrika model regresi log linier berganda. Model regresi log linier tersebut didapat setelah melakukan uji MWD test. Beberapa kesimpulan yang dapat dihasilkan dari penelitian ini, variabel GDP Amerika, variabel nilai tukar Dollar Amerika terhadap Rupiah dan variabel dummy mempunyai pengaruh secara nyata terhadap volume ekspor karet Indonesia. Sedangkan variabel harga karet alam dunia dan harga karet sintetis tidak mempunyai pengaruh secara nyata dalam penelitian ini pada periode pengamatan yaitu tahun 1980-2003.
3. Penelitian oleh Wira Rahadi
Penelitian yang dilakukan oleh Wira Rahadi dengan judul penelitiannya adalah “Analisis Ekspor Karet Alam Indonesia Ke Amerika Tahun 1971-1998”. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Selain itu pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t-stat, pengujian secara serentak dengan menggunakan uji F stat, pengujian terhadap koefisien determinasi majemuk (R2), dan asumsi klasik (multikolinieritas, heteroskedastisitas, autokorelasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Volume ekspor karet alam Indonesia dengan variabel-variabel yang mempengaruhinya yaitu harga karet alam dunia, harga karet sintetis, produksi karet alam Indonesia, GDP riil Amerika Serikat sebagai negara tujuan dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat.
Hasil dari penelitian Wira diperoleh bahwa variabel-variabel yang berpengaruh terhadap ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat dengan urutan dari variabel yang sangat berpengaruh hingga variabel yang pengaruhnya lebih kecil adalah GDP riil Amerika Serikat, harga karet alam dunia, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, produksi karet alam Indonesia dan harga karet sintetis.
4. Penelitian oleh Dian Cahyono

Penelitian yang dilakukan oleh Dian dengan judul penelitiannya adalah “Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Tembakau Olahan Indonesia Oleh Singapura 1986-2002”. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Selain itu pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t-stat, pengujian secara serentak dengan menggunakan uji F stat, pengujian terhadap koefisien determinasi majemuk (R2), dan asumsi klasik (multikolinieritas, heteroskedastisitas, autokorelasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Volume ekspor tembakau Indonesia ke Singapura dengan variabel-variabel yang mempengaruhinya yaitu harga tembakau internasional, GDP riil Singapura sebagai negara tujuan dan nilai tukar Dollar Singapura terhadap Rupiah.
Hasil dari penelitian Dian dapat diketahui bahwa variabel harga tembakau internasional dan GDP riil Singapura berpengaruh tehadap ekspor tembakau tetapi pada variabel nilai tukar dollar Singapura ke rupiah tidak berpengaruh secara nyata terhadap ekspor tembakau Indonesia oleh Singapura.

5. Penelitian oleh isventina
Analisis Dampak Peningkatan Ekspor Karet Alam Terhadap Perekonomian Indonesia: Suatu Pendekatan Analisis Input-Output. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menganalisis besarnya indeks daya penyebaran ke depan dan daya penyebaran ke belakang sektor perkebunan karet di Indonesia serta sektor-sektor mana saja yang menjadi sektor kunci atau sektor unggulan, 2) Menganalisis besarnya efek pengganda yang dihasilkan oleh sektor perkebunan karet yang meliputi sisi output, pendapatan dan tenaga kerja di Indonesia, 3) Menganalisis dampak perubahan ekspor karet alam Indonesia terhadap perekonomian Indonesia, khususnya terhadap output, pendapatan dan tenaga kerja. Penelitian ini menggunakan metode analisis Input-Output sisi permintaan untuk mengkaji dampak perubahan ekspor karet alam terhadap perekonomian Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor perkebunan karet tidak mempunyai kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya dan untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Analisis pengganda menunjukkan bahwa kemampuan sektor perkebunan karet untuk mempengaruhi pembentukan output, pendapatan dan tenaga kerja di seluruh sektor perekonomian tidak terlalu kuat. Peningkatan nilai ekspor karet alam Indonesia pada tahun 2006 akan berpengaruh terhadap peningkatan output, pendapatan dan tenaga kerja di berbagai sektor baik yang berpengaruh secara langsung maupun yang berpengaruh secara tidak langsung dalam perekonomian secara keseluruhan. Berdasarkan hasil penelitian, maka perlu adanya perbaikan pada sektor perkebunan karet. Dalam hal ini, peran pemerintah juga sangat diperlukan. Hasil analisis dalam penelitian ini hanya melihat dampak peningkatan nilai ekspor karet alam Indonesia terhadap output, pendapatan dan tenaga kerja secara umum, belum dapat memperhitungkan dampaknya secara spesifik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar